Keluarga ilalang kembali melakukan pendakian. Kali ini ke Gunung Karang via Cinyurup. Pendakian yang terasa istimewa karena diikuti oleh 49 orang. Jumlah yang cukup banyak untuk sebuah perjalanan mendaki, tetapi justru membuat suasananya semakin ramai, hangat, dan menyenangkan.
Yang menarik, sebagian besar peserta bukan datang sendirian, melainkan bersama keluarga. Ada bapak, ibu, dan anak yang ikut menikmati perjalanan menuju puncak. Pemandangan seperti ini tentu cukup menyenangkan, karena mendaki gunung ternyata tidak selalu harus identik dengan anak muda atau komunitas pendaki saja. Keluarga pun bisa menjadikan pendakian sebagai salah satu cara untuk menghabiskan waktu bersama.
Sepanjang perjalanan, terlihat bagaimana setiap keluarga saling mendampingi. Ada yang berjalan bersama, saling menunggu ketika ada anggota keluarga yang mulai lelah, dan sesekali berhenti untuk beristirahat sambil menikmati suasana alam. Anak-anak pun mendapatkan pengalaman langsung untuk mengenal alam, belajar menjaga stamina, sekaligus merasakan bagaimana rasanya berjuang mencapai sebuah tujuan bersama keluarga.
ini dia rombongan keluarga ilalang…
Bagi saya, inilah salah satu hal menarik dari pendakian kali ini. Bukan hanya soal mencapai puncak Gunung Karang, tetapi juga tentang perjalanan bersama keluarga, saling menguatkan, dan menciptakan pengalaman yang nantinya bisa menjadi cerita untuk dikenang. Pendakian menjadi lebih bermakna ketika puncaknya dicapai bersama orang-orang yang kita sayangi.
Pendakian itu pas musim duren sehingga banyak disuguhi duren duren. Bahkan sampai di basecamp sudah disuguhi duren gratis. Rasanya legit dan manis. Pengelola pinter bener menjamu pengunjung yang datang.
Sebelum ke lokasi kami sudah membayar untuk HTM dan parkir. HTM-nya Rp. 30.000 saja. Dibayarkan kolektif ke PJ pendakian yaitu Pak Faisal. Jadi tidak ribet bayar satu-satu di BC. Itu pun biar dapat diskon. Biasanya anak-anak tidak bayar, lho.
Kami berangkat dari alun-alun Rangkasbitung jam 06.00 pagi. Perjalanan sekitar satu jam. Melewati kampung domba yang terkenal di Pandeglang, Banten. Rutenya tidak terlalu ekstrem. Hanya tanjakan menjelang basecamp yang lumayan tinggi. Kalau pakai mobil butuh ancang-ancang atau antre. Kalau pakai motor sih aman-aman dan lancar saja.
Pukul 08.00 kami bersiap naik. Perjalanan dimulai setelah ritual wajib dilakukan yaitu foto bareng dan bikin konten. Awal pendakian jalannya masih aman karena melewati jalan paving block. Melewati kebun warga yang saat itu sedang hampir panen. Ada jambu air di sisi kanan kiri jalan. Cocok kalau saat itu bawa sambel rujak.
Senang lihat keluarga ilalang yang kompak mendaki gunung. Suami istri saling mendukung untuk meniti track yang kadang landai, mendatar, atau curam. Yang anaknya masih bayi atau di bawah 2 tahun pastinya menggendong. Kalau udah agak besar sih diajak jalan pelan-pelan.
Ada beberapa trek yang lumayan tinggi dan cukup menguras tenaga. Bahkan belum terlalu lama berjalan, kita sudah disambut dengan tanjakan yang membuat langkah harus lebih pelan. Bagi yang baru satu atau dua kali naik gunung, bagian seperti ini mungkin terasa cukup berat. Napas mulai terengah-engah, kaki mulai terasa pegal, dan sesekali rasanya ingin berhenti sebentar. ๐
Di trek seperti ini, tidak perlu memaksakan diri. Pelan saja jalannya, yang penting terus bergerak dan tetap menikmati perjalanan. Tidak perlu malu kalau harus sering berhenti untuk mengatur napas. Setiap orang punya kemampuan dan ritme yang berbeda. Yang penting bisa sampai dengan aman dan tetap menikmati suasananya.
Lagipula, naik gunung bisa sekalian menjadi olahraga. Kita berjalan kaki menempuh ribuan langkah, bahkan bisa lebih, tergantung rute dan perjalanan yang ditempuh. Belum lagi tanjakan dan turunan yang membuat tubuh bekerja lebih banyak. Pulang-pulang? Jangan ditanya. Keringat bisa sampai gobyos!
โMasya Allah, sudah lama nggak naik gunung kerasa banget sekarang.โ
โKalau begitu dirutinkan. Setiap bulan misalnya.โ
โBagus lagi kalau olahraga dulu sebelum naik gunung.โ
Tapi justru di situlah serunya. Naik gunung memang bisa memberikan banyak hal. Dapat pemandangan, dapat pengalaman, dapat cerita, dapat keringat, dan tentu saja dapat kesempatan untuk menguji diri sendiri. Kadang kita baru sadar bahwa tubuh kita ternyata mampu berjalan lebih jauh dari yang kita bayangkan.
Lalu, apakah ada yang kecapekan?
Pastinya ada. ๐
โKenapa sih kita naik gunung? Capek tahu. Mending di bawah nunggu.โ
Tapi banyak juga anak-anak yang riang gembira naik gunungnya. Bahkan yang kepleset dua tiga kali juga nggak kapok naik gunung.
Namanya juga naik gunung. Kalau tidak capek, mungkin namanya bukan pendakian. Tapi rasa lelah itu tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang menyebalkan. Dinikmati saja. Istirahat kalau lelah, minum kalau haus, atur napas, lalu lanjut lagi ketika tubuh sudah siap.
Sebab, dalam pendakian, bukan hanya soal seberapa cepat kita sampai di puncak. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita menikmati setiap langkah dalam perjalanan menuju ke sana. โฐ๏ธ๐
Jalan selama 2 jam lebih akhirnya membuahkan hasil. Dengan penuh perjuangan akhirnya Kami sampai di puncak Gunung Karang. Tapi ya itu tadi tidak barengan. Anak-anak lebih datang duluan.
Di puncak kami segera membuka bekal. Dalam kondisi capek apapun menunya terasa nikmat. Apalagi makannya di puncak Gunung. Menu yang dibawa sungguh menggugah selera. Ada ayam goreng, sambal jengkol, suwir ikan dan lainnya. Kami saling berbagi menu. Sayangnya air minum semakin menipis sehingga perlu berhemat air.
Dalam pendakian penting sekali mengatur konsumsi air. Walau ngos-ngosan atau haus saya tahan. Mengingat air yang semakin menipis. Kalau tidak haus sekali tidak minum walau semakin banyak berkeringat. Mengingat kondisi ini saya merasa lebih baik bawa banyak air walaupun agak repot kalau memang minim air di jalur pendakian.
ย
Rombongan ada yang anak-anak, dewasa, bahkan sudah sepuh. Ada laki-laki dan perempuan. Dengan kondisi begini tidak bisa kita mau cepat-cepat sampai di puncak. Harus nunggu teman seperjalanan. Di sanalah seni mendaki bahwa kebersamaan sangat penting untuk mencapai puncak. Tapi tidak bisa pula kita memaksa agar orang lain menunggu kita. Intinya kesadaran masing-masing ditambah pemaknaan tentang kebersamaan. Yang lambat tidak memaksa ditunggu, yang cepat harus bisa menahan diri.
Kalau untuk mendaki, menurut saya sebaiknya membawa trekking pole. Alat ini cukup membantu karena beban tubuh saat berjalan bisa terbagi antara tangan dan kaki, terutama ketika melewati jalur yang menanjak atau menurun. Jadi kaki tidak terlalu cepat terasa berat atau pegal.
Kalau belum punya trekking pole, tidak perlu buru-buru membeli karena biasanya bisa menyewa dengan harga yang cukup terjangkau, sekitar Rp10.000โRp15.000. Lumayan untuk dicoba terlebih dahulu sebelum memutuskan apakah memang perlu membeli sendiri.
Untuk alas kaki, sebenarnya disarankan tetap menggunakan sepatu, meskipun memang terasa sedikit lebih berat dibandingkan memakai sandal. Namun, sepatu memberikan perlindungan dan cengkeraman yang lebih baik sehingga perjalanan menjadi lebih aman, terutama ketika melewati jalur yang licin, berbatu, atau menanjak. Kalau punya sepatu khusus mendaki, tentu akan lebih nyaman karena memang dirancang untuk medan seperti itu. Tapi kalau belum punya, gunakan sepatu yang nyaman dan memiliki grip yang cukup baik. Yang penting, jangan hanya mengejar ringan, tetapi juga pertimbangkan faktor keamanan. ๐
Saya sih masih pakai sepatu badminton. ๐ Soalnya itu yang kebetulan ada di rumah dan masih cukup nyaman dipakai. Sebenarnya kepikiran juga mau beli sepatu khusus, tapi kalau sepatu yang sekarang masih bisa dipakai, rasanya sayang kalau harus keluar uang lagi, hehe. Jadi untuk sementara, manfaatkan saja yang ada dulu. Lumayan, daripada nambah pengeluaran yang sebenarnya belum terlalu perlu. ๐
Puncak Gunung Karang melalui jalur Cinyurup dikenal dengan nama Kiaradengdek, dengan ketinggian sekitar 1.078 mdpl. Jalur ini menawarkan pengalaman pendakian yang cukup menarik karena sepanjang perjalanan kita tidak hanya disuguhi suasana hutan dan jalur menanjak, tetapi juga pemandangan perkebunan warga yang begitu asri.
Ada tiga pos pendakian yang harus dilewati sebelum akhirnya sampai di puncak. Menariknya, selama perjalanan menuju puncak, kita akan beberapa kali melewati perkebunan milik warga. Setidaknya ada tiga titik perkebunan yang menjadi bagian dari perjalanan. Pemandangannya cukup indah dan membuat perjalanan terasa lebih berwarna.
Di sepanjang perkebunan, kita bisa melihat berbagai tanaman yang ditanam warga, mulai dari tomat, kol, cabai, dan berbagai jenis sayuran lainnya. Hamparan tanaman hijau di tengah suasana pegunungan menjadi pemandangan tersendiri yang mungkin tidak kita temukan ketika mendaki melalui jalur lain.
Bagi saya, bagian perkebunan ini justru menjadi salah satu hal menarik dari pendakian via Cinyurup. Selain menikmati perjalanan menuju puncak, kita juga bisa melihat secara langsung aktivitas dan hasil pertanian masyarakat sekitar. Jadi, perjalanan menuju Kiaradengdek bukan sekadar tentang menaklukkan ketinggian, tetapi juga menikmati alam dan kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya.
Perjalanan pulang semakin berkesan. Kami turun melewati jalan yang menantang sampai harus serodotan. Rombongan pun harus antre cukup lama. Beberapa orang jatuh terpeleset. Untungnya di atas tanah. Malah ada yang beberapa kali jatuh.
Kami juga sempat mampir di gubuk warga. Pemiliknya ramah. Kami disediakan minum, air panas untuk menyeduh kopi, segala jajanan dikeluarkan. Kami sempat beli wortel. Ada sensasi berbeda karena langsung dari kebonnya bisa panen sendiri. Ada juga rujak dengan bahan seadanya tapi terasa sangat nikmat karena dalam kondisi capek, di perjalanan, atau lapar.
Uniknya pendakian gunung karang via Cinyurup ini trek naik dan turunnya beda. Pas naik nggak perlu serodotan. Nah, pas turun, baru serodotan. Sebenarnya boleh dan bisa saja kembali lagi ke jalur berangkat tapi lebih jauh dan pemandangan yang sama. Ada juga lho anak muda yang dia itu dua kali ke puncak gunung karang. Katanya tek tokan dua kali. Kami belum sampai puncak saja dia sudah dua kali ke puncak. Pulangnya duluan dia pula. Yang ikut pendakian pasti inget dengan si pemuda itu, si baju sajadah, hehe…
Kami salah Zuhur dan Asar di pos dua. Di sana pula rombongan terbagi. Ada yang pakai ojek dengan membayar Rp. 50.000. Lainnya pulang lewat jalur tanah. Ada juga yang jalan kaki lewat jalur ojek. Walau berbeda kami punya tujuan sama yaitu sampai di basecamp.
Sekitar jam 5 kami bersiap pulang. Tidak melewati jalan pas berangkat tadi. Supaya menghindari papasan mobil yang biasanya lebih rame dari jalan itu. Alhamdulillah, satu pendakian terselesaikan. Ada banyak pengalaman yang didapat. Semoga bisa menjadi bekal bagi kami yang berguna untuk hidup. Pelajaran tentang kesabaran, kebersamaan, perjuangan, empati, optimisme, dan lainnya. Mari lanjutkan ke pendakian berikutnya. Ayo kita ngebolang!