Pilih Laman

Bapack2 Pejabat (Pendaki Jalan Lambat) Menjejak Puncak Gunung Karang

 

 

“Jangan injak akar ya. Akar tu licin. Nanti bisa kepleset,” kata Pak Ifan. Ketua rombongan buat pemuda-pemuda ilalang. Ini pendakian gunung Karang 1778 MDPL. Gunung karang Pandeglang memiliki trek menantang.

Rombongan kami ada sepuluh orang. 5 Bapack2 dan 5 orang pemuda. Saya bawa dua pemuda Jundi dan Firaz. Pak Fery bawa kakang Hanan. Pak Faisal bawa Sakhi dan Esal. Ada Pak Topan dan Pak Ifan. Ada lima pos pendakian di gunung karang. Uniknya, setiap pos dikasih nama sesuai jenjang sekolah. Ini dia namanya:

Basecamp Sukarena: Titik awal registrasi dan pendakian. 

Pos 1 TK (Tanaman Kontrak). 

Pos 2 ‘SD’ (Sanghiyang Dora): Elevasi 1.125 mdpl.

Pos 3 ‘SMP 1’ (Simpang Pasir Ipis): Elevasi 1.295 mdpl.

Pos 5 ‘SI’ (Sejati): Elevasi 1.715 mdpl.

Puncak Gunung Karang: Elevasi 1.778 MDPL.

 

Kami memulai pendakian sekitar jam 08 pagi. Harga tiket masuk (HTM)-nya Rp. 25.000.  Sayangnya tanpa pemanasan atau peregangan/stretching dulu. Padahal ini penting. Maklum masih pemula jadi lupa. Dengan bawaan dan peralatan yang memadai seperti tas isi makanan, minuman, senter, obat pribadi, dan lainnya. 

Di basecamp kami dibriefing oleh pengelola. Salah satunya harus berziarah di puncaknya. Tidak masalah. Makanan atau minuman kemasan dihitung juga agar nanti pulangnya dihitung sampah yang kembali kebawah. Masing-masing membuka tas dan melaporkan bawaannya. 

Di sepanjang jalan menuju pos 1 banyak bunga duren. Sepertinya musim raya kali ini. Bunganya bau harum agak menyengat. Kalau musim panen baguslah ke sini lagi. Perjalanan langsung mendaki tanjakan curam elevasi 45 hingga 60 derajat. 

Sepatu agar lebih nyaman dan aman karena mungkin ada batu yang tajam atau tanah yang licin. Rute menanjaknya memang menghabiskan tenaga. Ngos-ngosan melangkahkan kaki. Keringat mengalir deras. Tenaga yang dikeluarkan membuat energi semakin habis. Tapi kami tak buru-buru. Santai menikmati perjalanan walaupun itu tanjakan. Semak di kanan kiri sudah jadi hal biasa.

Basecamp

Pos 1 “TK”

Pemandangan di Pos 2

Pos 3 “SMP”

Pos 4 “SMA”

Di Pos 5 “S1” dengan pose andalan dr bang Fey

Pendaki Jalan Lambat Tidak Pernah Salah, Hanya Banyak Istirahat

 

Namanya pejabat, atau pendaki jalan lambat, sebentar-sebentar berhenti. Anak-anak sih nggak sabaran. Dengan riang mereka jalan terus walau trek nya semakin nanjak. Sesekali berhenti karena menunggu bapak-bapak. Camilan cukup banyak. Bisa jadi pelipur lara buat mereka. Air minum juga memadai. Harus diatur biar cukup sampai di puncak nanti. Malahan, di beberapa pos ada airnya. Seperti di pos 1 dan 2. Kita bisa mengisi wadah minum di sana. Air dari puncak gunung terasa segar dan sejuk.

Di perjalanan memang melelahkan tapi anehnya anak-anak tetap riang. Seperti Sakhi dan Eshal yang biasanya becanda eh malah kelihatan banyak omong dari bisanya. Apalagi Sakhi, sangat membantu dan mendampingi adiknya. Dia selalu di depan seperti memastikan jalan yang dilalui adiknya adalah jalan yang bagus dan aman. 

Kakang Hanan hampir menyerah. Di jalan dia sempat ketinggalan dari teman-temannya. Sempat mengeluh. Papanya nanya mau lanjut atau tidak, dia pilih lanjut. Setelah beberapa lamanya melanjutkan perjalanan, dia gabung sama teman-temannya.

Begitu sudah bareng sama teman-temannya, dia langsung ceria. Kuat lagi. Energi terisi penuh. Bukan saja di pos berikutnya tapi sampai puncak juga bahkan kembali ke base campnya. “Anak digabungkan sama temannya biar dia jadi lebih kuat.” 

Berkali-kali ragu buat naik gunung tapi anak jadi energi dan motivasi. Entah kenapa mereka justru semangat untuk mendaki. Saya dua kali atau lebih nanya mereka bener mau mendaki.

 “Bener, Bi. Mas kan suka mendaki.” 

“Kuat ya di jalan? Nggak ngeluh nanti ya?”

 “Iya dong.”

 “Kalau ternyata temannya nggak jadi ikut, gimana?”

 “Tetep pengen mendaki,” jawabnya mantap.

Dan akhirnya kami sekarang sedang mendaki. Waktu seakan berjalan melambat saat mendaki. Kita menikmati menit demi menit. Jam demi jam begitu berharga dan dilewati. Apalagi kalau kondisinya tanjakan curam. Rasanya baru beberapa menit saja ternyata sudah sejaman. Rute sekitar sepuluh dua puluh meter ternyata menghabiskan waktu setengah jam. Sangat berbeda kalau dibandingkan jalan di alun-alun atau GOR. Setengah jam sudah dapat jauh..sangat jauh malah.

Perkiraan sampai di puncak jam 12 atau jam 1. Ternyata azan Zuhur masih di pos 3 atau SMP. Anak-anak selalu di depan. Menunggu bapaknya. Untungnya bekal makanan cukup. Hampir satu tas isinya makanan. Malah senter itu lupa di bawa. Diantara bapak-bapak, Pak Fery yang paling banyak ngobrol sama anaknya. Memang momen mendaki ini bagusnya untuk meningkatkan dan menguatkan bonding ke anak.

Dia juga yang sibuk ditelpon oleh rekan kerja atau bawahannya. Semacam minta izin melakukan tindakan atau apa. Dengan ngos-ngosan dia menjawab telpon. Sampai di pos 2 sering ada telponan. Untuk naik gunung ini memang Pak Fery mengambil cuti.

Bang Fey dengan pose andalannya…wkwkw

Ketua rombongan yang merangkap bendahara sekaligus tukang lobi, Pak Faisal…beserta pasukannya…

Katanya Cuma 70 MDPL Lagi, Puncak Masih Jauh, Camilan Tinggal Sedikit

 

Sudah pos 5. Harusnya puncak sebentar lagi. Kata yang nunggu warung memang tinggal 70 mdpl lagi. Aseeek… Sebentar lagi puncak… Seneng dong.

Untuk kami, yang sudah hampir kepala empat, ada yang sudah kepala empat, mendaki gunung bukan hal mudah. Ngos-ngosan dan lambat. Istilahnya pejabat atau pendaki jalan lambat. Satu pos saja bisa empat sampai lima kali berhenti walaupun sebentar. Memang sungguh menguras tenaga. Untung juga bawa anak.

“Kalau nggak ada anak-anak kita bisa balik lagi, karena nggak kuat. Tapi kan malu dilihat anak kalau nggak nyampe puncak.”

Eh bener juga.. hehe..

Energi semakin menipis. Air minum cepat habis. Eh, camilan juga dong, hehe.. untungnya di pos 1-3 masih ada air. Tempat minum yang sudah habis bisa diisi lagi. Meskipun jalannya lambat, keringat tetap mengucur deras, lantaran tenaga yang dikeluarkan untuk mengangkat langkah demi langkah. Jalur sukarena memang sepi. Jika dibanding pas ke gunung Pulosari tahun sebelumnya. Memang ada alternatif via jalur lain. Katanya lebih mudah. Pas sampai di pos 5, kami bertemu banyak pendaki. Rata-rata remaja atau remaji. Outfit mereka lumayan beragam. Yang cewek bahkan ada makeup ana segala. Pemudanya ada yang pakai sandal.

Sampai di sini sebetulnya tinggal dikit lagi. Hanya 70 MDPL. Namun, keinginan cepat sampai di puncak harus ditunda. Jalur selanjutnya adalah turun se turun-turunnya. Kami menuju seperti sungai yang kering airnya. Turunan yang cukup curam. Sekitar 10 menit lalu naik lagi, sampai setara dengan ketinggian di pos 5 bahkan lebih tinggi lagi. Sampai di sini tinggal sebentar lagi. Semakin ramai suara pendaki lainnya. Anak-anak juga bilang sudah sampai di puncak. 

Akhirnya..

Dengan penuh perjuangan dan kondisi entah seperti apa, kami sampai di puncak. Ada warung dan musola. Di pinggir puncak. Di tengah puncak ada sumur tujuh yang kini tak ada airnya. Cuma genangan di sudut-sudutnya. Kami segera bergabung dengan pendaki lainnya. Mencari tempat kosong. Mengeluarkan bekal. Menyiapkan air panas untuk masak mie instan. Naik gunung tanpa masak mie instan sepertinya kurang lengkap.

Sejenak lupa capeknya pendakian

Yang ini setengah hati makan nasi pengennya mie instan langsung

Semur Jengkol Menyatukan Kami di Gunung Karang

Pak feri mengeluarkan bekel andalannya yaitu semur jengkol. Di tempat biasa saja jengkol jadi istimewa apalagi di puncak gunung. Tak hanya itu tapi ada tahu, tempe, dan sambel. Beuh.. udah nggak sabar untuk menikmati menu bekal. Pak Faisal dan Pak Ifan  juga tak mau kalah. Bekal yang dibawa dicampur dihamparkan. Mie instan juga dituangkan. Ada dua tempat dan dua porsi untuk bapak-bapak dan anak-anak. Kami makan dengan lahap selahab lahapnya. Kombinasi lapar, capek, dan dingin membuat makan siang itu luar biasa nikmat senikmatnya.  

Ini adalah pendakian pertama bersama keluarga. Sebelumnya saya mendaki gunung Pulosari hanya sendirian tak membawa anak-anak.  

Setelah salat dengan cara bertayamum dan jamak qasar kami kembali ngumpul di puncak gunung. Karena di sana tidak ada air untuk wudu. Sekarang kami ngopi. Merebus air barang sebentar. Masya Allah nikmatnya ngopi. Mau kopi hitam, kopi saset, atau lainnya. Pakai gelas seadanya bahkan bekas air mineral gelas. 

Ritual yang nggak boleh dilewatkan tentu saja foto pakai plang/plat puncak gunung. Bergantian dengan pendaki lain. Gak usah rebutan. Waktu masih lama pula. Sesama  pendaki biasanya ramah dan sopan mungkin karena senasib sepenanggungan seperjuangan. 

Ada baiknya lakukan latihan fisik sebelum naik gunung. Buat persiapan agar nggak kaget dengan medan ala naik gunung. Bisa dengan joging seminggu sebelumnya. 

Saya terus mengingat pesan Abah Apri kalau mendaki atau jalan-jalan, begini pesannya,

 “Capek boleh. Tapi nggak boleh mengeluh.”

 Kalau capek istirahat saja. Nggak usah memaksakan cepat sampai. Nanti malah kurang menikmati. Nikmati perjalanan. Seperti sebuah ungkapan, “Its about  journey, not a destination.” Maka, nikmati perjalanan seperti pemandangan, pohon/tamaman kiri-kanan, jalan becek menanjak, bahkan nikmati kelelahan itu. Jangan heran kalau nanya ke sesama pendaki, “Sedikit Lagi” itu bisa satu jam atau dua jam.

Latihan Jadi Pemimpin dan Ujian Kesabaran

Momen pendakian bisa untuk melatih kepemimpinan. Kemarin mas Jundi ditugaskan menjadi pimpinan rombongan. Dia berada di depan. Nyari jalan yang bagus dan memudahkan. Kadang-kadang dia juga ada di belakang ketinggalan karena makan atau hal lainnya. 

“Lewat sini aja. Lebih landai,” 

Kadang dia mengingatkan kalau ada duri atau tanaman yang tajam agar dihindari teman-temannya. Memang lah perjalanan membutuhkan ekstra hati. 

Memang kalau dipikir-pikir lebih enak di rumah saja. Bisa rebahan. Dalam kondisi nyaman. Tidak kehujanan atau kepanasan. Bahkan main HP seharian. Tapi kalau sepanjang hari selalu begitu kapan dapat pengalaman baru? Tentu tidak punya kenangan yang berkesan. Selain itu mendaki gunung punya banyak manfaat. Untuk olahraga, menumbuhkan ketahanan fisik, memperkuat kebersamaan dan lainnya. Ya bener loh kalau mendaki itu sangat menguras tenaga. Sehingga memacu ketangguhan kita. Anggap saja olahraga. Yang biasanya males-malesan inilah saatnya untuk berkeringat dan melatih otot-otot kita. Jumlah langkah mendaki gunung Karang adalah 21.980 langkah lebih kurang 300 kilo kalori terbakar. Lebih dari ini soalnya handphone sempat mati juga sehingga tidak merekam langkah yang sebenarnya.

Rute perjalanan dari Rangkasbitung ke Pandeglang menggunakan kendaraan. Alhamdulillah, panther si kebo, sangat membantu kegiatan outdoor keluarga atau teman-teman. Perjalanan dengan kendaraan ini sekitar se jam saja itu sudah dengan sarapan. Suasana perjalanan menuju Pandeglang sangat nyaman dengan keliling kanan kiri disuguhi pemandangan indah. Kondisi jalan bagus. Kami melewati pesantren Ustadz Adi Hidayat di Pandeglang. 

Keseruan bersama bapak-bapak juga membuat perjalanan berkesan. Pas rute menanjak  sempat ngobrol walaupun konsekuensinya semakin ngos-ngosan. 

Malahan ngobrol pendakian selanjutnya.

“Besok ke mana lagi?”

“Parakasak aja gimana?”

“Jangan. Sudah pernah. Ke Aseupan aja yuk,”kata pak Faisal.

Edasss… Gunung karang aja belum selesai ditanjak. Eh udah mau gunung Aseupan. Kalau tek tok an ala anak muda sih bisa. Lha kalau anak tua kayak kami, yakin bisa? Hehe..

Kondisi jalur yang nyaman menjadikan pendaki merasa aman menyusuri rute-rutenya. Pengelola jalur pendakian juga melakukan penyisiran untuk memastikan pendaki dalam kondisi yang terpantau. 

Rasa lelah dan semangat silih berganti. Menikmati perjalanan mendaki merupakan hal yang tidak didapati dari kegiatan lainnya.

Secara umum justru emandangan paling bagus ada di pos 2. Sungguh memukau ketika berada di sana. Apalagi pas pulangnya. Setelah hujan, banyak asap/kabut muncul dari sela-sela tanah, membuat pemandangan seperti di atas awan saja. 

Tantangan yang dihadapi saat pendakian memang cuaca yang sering berubah. Awal mendaki cuaca cerah. Sampai di atas turun hujan. Itu pula yang membuat perjalanan agak lama karena jalan licin atau jalan becek. Tapi jalan ini malah jadi Momen seru atau bahagia buat anak. Mereka banyak yang perosotan di jalan. Tak terhitung berapa kali mereka serodotan. Memang sih baju, celana, dan tas jadi kotor. Tapi mereka tertawa, bercanda, dan lupa dengan lelah. Padahal, kemalaman juga, tapi itu tak dirasa.

Di puncak memang tak mendapati sunrise atau terbitnya matahari. Soalnya siang sampai di puncak. Rasa syukur kami panjatkan kepada Allah. Karena Allah lah kami sampai di atas.. kekuatan dari Allah. Kesempatan dari Allah..kemampuan dari Allah.

Tapi kalau ada yang bulang mendaki itu mudah, mungkin ada benarnya, ada orang yang bilang gitu, terutama kata orang yang nggak ikut.

Tantangan turun justru yang paling dikhawatirkan. Ya harus tetap dihadapi. Karena biasanya kaki  lebih sakit daripada naik. Nahan lebih sakit daripada mendaki. Eh tapi masing-masing punya tantangannya sih. Kalau mendaki memang kaki tidak sakit tetapi butuh tenaga yang ekstra dan ngos-ngosan serta berkeringat. Tapi kalau turun jarang ngos-ngosan atau berkeringat. 

Perasaan setelah selesai tentu lega sekali. Dengan perjuangan yang tidak mudah bahkan sampai larut malam akhirnya pendakian gunung Karang 1778 mdpl berhasil diselesaikan. Kami bukan menaklukkan gunung tetapi hanya sampai di puncaknya. Manusia tidak pernah bisa menaklukkan gunung. Manusia hanya sampai di puncaknya.

Penutup : Pendaki Jalan Lambat Tidak Pernah Salah, Hanya Banyak Istirahat

Bisa dibilang ini uji coba pendakian tek tok. Dulu kami camping di Pulosari. Sekarang ini nyoba tek tok-an. Hasilnya begitulah: dengkul minus, asam lambung meronta-ronta. Pas turun memang bawaan semakin ringan, tapi energi semakin habis juga. Hehe.. Total perjalanan sekitar 10 jam. Hujan membuat kami jalan semakin lambat. Eh, jangan pula menyalahkan cuaca ya.. Datang untuk mendaki, pulangnya dapat nyeri, udah jadi sebuah konsekwensi. Naik gunung bukan karena otot kami kuat, tapi keinginan dan mental yang lebih kuat.

Dari mendaki gunung Karang ada banyak yang bisa diambil pelajaran atau hikmah. Pertama, Pentingnya persiapan. Kalau bisa lakukan olahraga secara rutin sebelum melakukan pendakian agar tidak terlalu kaget dengan kepayahan di jalan untuk pendakian. Kedua, perlengkapan. Bawa perlengkapan dengan lengkap. Jangan malas membawanya. Kalau bisa buat list barang yang akan dibawa sebelum mendaki. Jas hujan harus dibawa walaupun cuaca terlihat cerah karena perubahan cuaca tidak bisa diprediksi. Ketiga, Kesabaran. Belajar sabar dalam perjalanan. Tidak buru-buru ingin sampai di atas atau puncaknya. Tapi haruslah menikmati setiap perjalanannya. Ibarat lari, mendaki gunung itu seperti lari maraton bukan lari sprint. Keempat, Mental yang kuat. Siap menghadapi berbagai medan yang akan dilalui. Siap mental juga dengan perubahan cuaca. Apalagi hujan di tengah trek. Bisa membuat kita mengeluh bahkan panik. Harusnya tetap tenang dan jalani walaupun hujan turun dengan deras. Asal bawa jas hujan, bisa lebih baik. 

Pendakian ini menjadi salah satu kenangan bagi kami bagi keluarga saya tentang perjuangan sampai di puncaknya. Setelah mengalahkan berbagai hal untuk melakukan trek ke gunung Karang. Mudah-mudahan bisa treking lagi ke gunung yang lainnya. Luar biasa untuk teman-teman seperjuangan pendakian ke gunung Karang. Terimakasih Bro Topan yang jadi guide dan Bro Ifan yang ngasuh anak-anak. Abah Apri semoga bergabung di pendakian selanjutnya.***