backpacker itu mengajarkan sesuatu yang tidak diceritakan di buku dan tidak diberitahu oleh guru.
Tahun ini ilalang school mengadakan back packer. Tujuannya lumayan jauh dan menantang. Yaitu ke Lampung tepatnya ke Pasar Payungi.
Kenapa menantang?
Kalau backpacker sendirian mungkin lebih ringan dan ringkas. Tapi backpacker ilalang school ini sama keluarga. Bahkan keluarga besar. Jadi ada satu keluarga yang bawa lima peserta bahkan delapan peserta.
Banyak hal yang saya lihat. Kedekatan antara sesama keluarga dan antar keluarga. Seperti ayah dan anak adu panco, balap lari, makan bersama, saling bercanda, atau salat malam bareng. Ada kakak adik saling menjaga dan bercanda. Mungkin di luar backpacker ini ternyata seperti ini jarang dilakukan.
Ada seorang ayah yang mengasuh anak dari keluarga lain, membawakan barang bawaan keluarga lain, berbagi makanan, saling menjaga, dan mendoakan. Walau kadang dengan diri sendiri atau keluarga sendiri pun sudah repot. Tapi tidak lantas sampai dengan kondisi keluarga lain.
Backpacker ibarat senang mempersiapkan diri sendiri. Bisa saja sekolah menyewa bus dari tempat asal. Tinggal duduk manis dan diantar ke tujuan. Sementara, backpacker itu ribetnya: bawa barang bawaan ke stasiun, menyeret-nyeret koper turun stasiun menuju kapal penyeberangan, naik bus ke basecamp, tidur di masjid, dan lainnya. Untungnya, orang tua sekarang yang merupakan milenial, sudah terbiasa dengan kondisi ini. Bahkan terbiasa dengan kesulitan yang lebih daripada ini. Jujur saja ini belum seberapa. Untuk pribadi. Tapi kalau sekarang sudah berkeluarga tentu ada tantangan yang berbeda.
Backpacker harusnya jadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan keluarga. Jadi perlu memanfaatkan waktu di kendaraan, atau di sela-sela menunggu kendaraan, atau jeda kegiatan. Bisa ngobrol tentang visi misi keluarga atau arah keluarga yang telah ditetapkan sebelumnya. Namun kalau kondisi tidak memungkinkan seharusnya kita berlapang dada.
Keluarga penerbang, nama keluarga saya, sebelumnya punya kegiatan yang cukup padat yaitu mendaki gunung parakasap 1001 mdpl dan camping Padarincang. Sehingga kurang maksimal menyiapkan kegiatan di perjalanan untuk membahas tentang keluarga kecuali hanya sebentar. Kalau di penginapan tidak bisa karena menginapnya dipisah atau kegiatan yang sangat padat. Mungkin perlu diperhatikan di lain kesempatan.
Rombongan sekolah ilalang terbagi dua saat menginap. Ibu-ibu di penginapan. Bapak-bapaknya di masjid. Ternyata di masjid pun pakai pendingin atau AC sehingga kondisinya sangat nyaman.
Ada yang pakai tas ransel, tas carrier, koper dan lainnya. Lengkap dengan matrasnya. Bahkan ada yang membawa kompor portable untuk masak atau bikin kopi. Kalau gini sudah mirip camping saja.
Sejumlah 107 orang ikut dalam backpacker. Naik turun kendaraan, menyetor tiket, antre makan, dan lainnya.
Alhamdulillah, mungkin keluarga kami terbanyak peserta backpacker ini. Masya Allah, Allah memberikan kekuatan kepada kami dan keringanan sehingga tak menemui kendala yang berat juga lantaran fasil serta keluarga lainnya.
salah satu tujuan utama backpacker adalah berkunjung ke payungi atau Pasar Yosomulyo Pelangi. Payungi berdiri 28 Oktober 2018 mengambil semangat sumpah pemuda. Founder Payungi, Pak Dharma Setyawan, yang juga seorang dosen menerima kunjungan kami dan menjelaskan banyak hal. Berbagai ucapan dan ungkapan sungguh memberikan tenaga untuk kami. Ada rasa meledak-ledak dari pemaparan itu.
Payungi didirikan dengan landasan gotong royong dan memberikan dampak manfaat kepada masyarakat. Kolaborasi dilakukan untuk menyukseskan pasar payung yang selalu ramai ketika digelar.
Seseorang harus berdampak bagi lingkungan dengan berbagai potensi yang dia miliki. Harus jeli dan teliti melihat permasalahan masyarakat. Lalu mencoba mencari solusi dan merealisasikannya.
Ada orang yang sibuk mencari solusi dari permasalahan di masyarakat. Lalu ada yang sibuk menyalahkan orang yang sibuk mencari solusi itu. Kira-kira kita yang mana?
Untuk berdampak pada masyarakat dan menggerakkan masyarakat seseorang itu harus selesai dengan dirinya. Saya mengartikannya dengan orang yang sudah beres dengan masalah ekonomi, waktu bersama keluarga, siap berkorban untuk masyarakat dan lainnya.
Bukan hanya pasar tradisional saja, Payungi juga bergerak di bidang lain termasuk pendidikan, pelatihan pengembangan diri, edukasi lingkungan, dan lainnya. Makanya, Payungi punya pesantren wirausaha. Pak Dharma menegaskan pentingnya punya karakter. Karakter ini dibangun oleh pendidikan yang juga didapat dari membaca. Pak Dharma sangat memotivasi untuk menggerakkan literasi di lingkungan termasuk keluarga.
Backpaker bukan saja berguru mencari ilmu tetapi ada juga porsi liburannya. Nah, liburannya itu ke lembah hijau, memang agak jauh dari payungi tapi jalannya lancar karena lewat tol juga. Di sana rombongan melihat berbagai hewan seperti burung, ular, ikan, burung unta, dan lainnya.
Boleh salah, menolak kalah. Kata beliau. Siapapun yang sudah memulai, tidak bisa dikatakan kalah, ya sudah berani melangkah dari hanya sekadar ide dan pemikiran.
Pasar seluas satu kawasan RT yang penjual makanan tradisional dan kekinian. Pasar yang dibuka di hari Minggu ini ramai dikunjungi. Saat pagi di tempat parkir awalnya hanya beberapa motor yang datang. Agak siang dikit mulai ramai bahkan ratusan mobil dan motor menghadapi area parkir. Sangat padat dan ramai. Ternyata itu belum ramai kata pengelola di sana. Di hari tertentu beserta jauh lebih banyak dari saat itu. Kebayang betapa ramai dan padatnya pengunjung.
Memang masyarakat di metro mayoritas suku Jawa. Sehingga di pasar itu banyak dijumpai orang Jawa atau orang mengobrol pakai bahasa Jawa. Ada yang jual gudeg, nasi tiwul, nasi timbel, pecel, dan lainnya. Rata-rata di harga Rp 20.000. Kalau minuman ada wedang jahe, cendol, es dan lainnya. Kalau camilan ada getuk, cenil, corndog, dan lainnya. Lengkap juga dengan permainan anak-anak seperti flying fox, pancingan, dan lainnya.
Begitu banyak energi yang didapat dari Payungi. Karena dilihat, didengar, atau disimak. Yang tidak kalah penting adalah menyerap energi itu lalu mengubahnya menjadi aksi. Alhamdulillah, keluarga dalam sudah ada yang melakukan mirip seperti yang di Payungi. Mungkin akan ada keluarga yang berbuat seperti itu juga.
Tidak hanya belajar, keluarga ilalang juga mendapatkan porsi liburan. Ada wisata kuliner, kebun binatang, dan lainnya. Terutama anak-anak sangat menikmati permainan seperti skuter, jajan, dan lainnya.
Backpacker mungkin rasanya kurang nyaman, lebih nyaman di rumah saja, tapi kerepotannya memberikan edukasi untuk masa depan tentang kemandirian, kolaborasi, dan daya tahan tubuh. Backpacker mungkin menghabiskan biaya yang lebih besar jika di rumah saja. Tapi pengeluaran itu untuk pengalaman, wawasan, dan pahala silaturahmi. Insyaallah, ada banyak makna dari backpacker ini. Seperti firman Allah dalam Surat Al Mulk 15 yang artinya, “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”