Merasakan Pemandangan Hijau Di Cikulur Lebak Banten

Menikmati Pemandangan Hijau di Cikulur, Lebak, Banten

Jika mencari suasana kampung dengan udara segar dan pemandangan hijau, datanglah ke Cikulur.

Semakin maju perkembangan daerah bisa mengurangi daerah yang hijau dengan pepohonan atau tanaman. Semakin modern manusia menginginkan punya infrastruktur yang canggih, diisi dengan kendaraan yang modern, atau pabrik-pabrik industri. 

Bisa jadi semakin sulit untuk mencari daerah yang sejuk dan banyak pepohonan. Di pelosok-pelosok daerah mungkin masih banyak ya. Masih banyak daerah di pinggiran yang mempertahankan pepohonan yang menyumbang udara bersih, memproduksi banyak oksigen, dan pemandangan yang menyejukkan. 

Salah satunya adalah di daerah kabupaten Lebak Provinsi Banten. Tepatnya di daerah Kecamatan Cikulur. Kebayang nggak lokasinya? 

Rute Perjalanan

Jadi kalau dari Jakarta menuju ke Kabupaten Serang sebagai ibukota provinsi Banten sekitar dua  jam. Dari Serang ke Kabupaten Lebak sekitar dua jam juga. Nah, kalau menuju Kecamatan Cikulur sekitar satu jam. Kalau dari Serang, kita nggak perlu ke ibukota kabupaten Lebak tetapi langsung menuju Kecamatan cikulur mengambil jalan dari Warung gunung.  Warung gunung ini berbatasan Kabupaten Lebak dan Kabupaten Serang. 

Saya pun melakukan perjalanan dari Rangkasbitung menuju Kecamatan Cikulur. Dari rumah pukul 08.00 pagi dengan mengendarai sepeda motor. Untungnya udara di pagi hari cukup persahabatan. Tidak terlalu dingin, tidak terlalu panas. Kalau pagi hujan maka repot karena jalan licin dan udara dingin sehingga khawatir masuk angin. Untuk berjaga-jaga saya menggunakan jaket untuk melindungi diri dari angin atau hujan. Sementara kalau siang akan terasa panas sehingga bisa mengurangi konsentrasi mengendarai motor. 

Sekitar sepuluh menit dari Rangkasbitug hingga Warunggunung. Lalu menempuh perjalanan sekitar 20 menit di jalan Raya Sampai – Cikulur. 

Pemandangan di kanan kiri perjalanan sungguh indah. Berapa kali melewati sawah yang sedang ranum padinya. Di pinggir jalan masih banyak rumput segar-segar. Ada banyak pohon di kanan kiri jalan yang dilewati. Meskipun secara umum pemandangan dirusak oleh spanduk atau baliho para caleg dan calon presiden. Sangat banyak. Baik di perempatan jalan atau jalan lurus. Banyak yang memasang dalam jumlah yang berlebih sehingga banyak yang berjatuhan ketika sebelumnya hujan atau angin kencang. Padahal spanduk seperti itu sangat berbahaya bagi pengendara.

Saya melewati pohon karet yang luas. Terasa segar sekali nuansanya. Kalau menarik nafas terasa udara bersih yang masuk ke paru-paru. Mata pun terasa sejuk karena pemandangan hijau.

Beberapa kali melewati tanjakan landai dan turunan yang curam dengan kondisi jalan yang mulus. Sebuah pengalaman touring yang mengesankan. 

Saya juga bertemu dengan pemandangan yang unik. Ada musola yang terlantar berada di tanah yang tinggi. Mushola ini sudah tidak terawat. Tanaman merambat di seluruh bagian mushola. Dindingnya sudah lapuk. Gentengnya banyak yang turun atau berjatuhan. Kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk dipakai. Maka ada pertanyaan kenapa mushola bisa seperti itu?

Perjalanan Pulang

Selepas kebon karet saya beristirahat di pinggir jalan. Memandangi Mushola yang terlihat unik ini. Belasan menit saya berada di pinggir jalan paling dekat dengan mushola itu. Rasa penasaran yang membuat saya berlama-lama memandang fragmen langka ini. Sekitar setengah jam saya berada di sana lalu saya melanjutkan perjalanan. Karena waktu sudah hampir siang saya mencari warung makan. Di daerah Kampung susah mencari warung makan. Beberapa menit kemudian saya menemukan tempat bakso dan mie ayam. Saya keingat ucapan rekan kerja saya,

“Apapun kegiatannya kalau jalan-jalan larinya paling bakso atau mie ayam.”

Ternyata bener sih ucapannya. Biasanya kalau jalan-jalan yang dicari kan bakso dan mie ayam. Ya mungkin penat di jalan jadi pengen nyari bakso yang bikin mata nyalang lagi. 

Saya makan dengan lahap karena pagi tadi sedikit sarapannya. Lalu saya berlama-lama di sana dengan memesan teh hangat manis sambil menunggu datangnya waktu salat zuhur. Saat saya di mushola isinya jamaah didominasi S2 atau S3. Apa itu? Jamaah S2 adalah sudah sepuh. Jamaah S3 adalah sudah sangat sepuh. Anak mudanya entah di mana. Mungkin di waktu biasanya memang tidak ada. Bisa jadi pergi merantau ke kota untuk mencari nafkah atau penghasilan yang lebih besar atau cepat daripada di kampung. 

Hujan turun ketika saya mau pulang. Untungnya tidak deras. Tapi saya sudah bersiap dengan jas hujan. Ada atasan dan bawahannya saya pakai semuanya. Ternyata di Rangkasbitung tidak hujan. Baru sampai warung gunung saja jalannya masih kering. 

Mungkin orang bingung melihat saya pakai jas hujan. Mau berhenti tapi tanggung. Saya pikir dengan pakai jas hujan lebih kuat menahan angin biar tidak masuk angin. Faktor usia yang sudah mulai senja seperti ini tidak bisa kena angin sedikit saja. Maka  tetap saya pakai jas hujan. Baru sampai di sekolah jas hujan saya buka. Alhamdulillah, meskipun perjalanan sebentar saja tapi mendapatkan banyak hal. Anggap saja refreshing ke kampung yang biasanya riuh dengan pekerjaan rutinitas sekarang menemukan kehidupan kampung yang damai, sejuk, dan tenang. Ibaratnya mengisi ulang bahan bakar badan agar penuh kembali sehingga penuh energi menjalankan aktivitas. 

Kondisi pemandangan yang saya lihat di kecamatan cikulur saat ini sudah langka. Mudah-mudahan tidak semakin habis Karena kerakusan manusia mengatasnamakan pembangunan. 

4 komentar untuk “Merasakan Pemandangan Hijau Di Cikulur Lebak Banten”

  1. Walaupun sy orang gunung, tapi tetap mata ini takkan bosan menikmati hijaunya hamparan sawah, birunya gunung-gunung, dan itulaah sarapan pagi sepanjang jalan ke sekolah kami. Sy ikut menikmati perjalan Pak Padil..
    S2 S3? Hahaha.. plesetan nan keren

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top