Pilih Laman

Indonesia Humanitarian Summit 2025

Empowerment to The Next Level

Waktu berputar semakin cepat. Dunia semakin sibuk. Sebanyak apapun waktu kita, rasanya tidak cukup untuk melakukan berbagai aktivitas kita.

Kalau dituruti, bisa-bisa kita jadi egois  dan memikirkan diri sendiri. Padahal, di sekeliling kita banyak yang butuh perhatian. Salah satunya adalah masalah kemiskinan.

Kemiskinan, Realitas yang Masih Membelit Jutaan Warga Indonesia

 

Siapa sih yang mau jadi miskin? Semua orang menghindarinya. Tapi kadang nasib tidak bisa dielakkan.

Salah satunya masalah yang masih dihadapi Indonesia adalah kemiskinan. Ada sekitar 24 juta masyarakat miskin.

Negara mungkin tidak bisa menyelesaikan masalah ini sepenuhnya. Nah, kemarin aku dapat banyak inspirasi.

Di acara Indonesia Humanitarian Summit 2025 yang diadakan oleh Dompet Dhuafa dan Nusantara TV pada 15 Januari 2026. Kemiskinan bisa dikurangi, setidaknya kalau tidak bisa dihilangkan, dengan kontribusi negara dan lembaga filantropi.

Jadi kalau mengentaskan kemiskinan itu tidak cukup hanya memberikan bantuan saja tetapi idealnya melalui program pemberdayaan. Seperti istilah, ‘kalau membantu jangan ngasih ikannya tapi masih pancingnya bahkan kita siapkan kolamnya’.

Lebih-lebih, dalam membantu masyarakat miskin dengan memberikan program pemberdayaan itu agar meningkatkan martabatnya.

Dompet Dhuafa adalah lembaga filantropi terpercaya sejak 1994 yang fokus pada pemberdayaan umat melalui lima pilar program utama yaitu kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial, serta dakwah dan budaya.

Banyak tokoh dan lembaga yang hadir. Ada Bapak Anis Matta (wakil menteri luar negeri), Bapak Sandiaga Salahuddin Uno (Entrepreneur), Bapak Yudi Latif (Anggota Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika), Bapak Wildhan Dewayana (Ketua Umum Forum Zakat), Andhika Mahardika, Bapak Salman Subakat (Co-Founder Paragon Corp), Ibu Sally Giovanny (Owner Batik Trusmi), dan lainnya.

Lembaga filantropi, seperti Dompet Dhuafa, memiliki kontribusi penting dalam mengurangi kemiskinan sekaligus memajukan Indonesia. Termasuk ketika Indonesia dilanda bencana.

Indonesia itu negara yang punya banyak bencana alam. Ada yang menyebutnya sebagai negara supermarket bencana. 

Ini dipengaruhi letak geografis Indonesia yang terletak di Ring of Fire adalah Cincin Api Pasifik atau Lingkaran Api Pasifik sehingga sering mengalami letusan gunung berapi hingga gempa bumi.

Seringkali negara terbatas karena jangkauan dan peraturan tertentu. Jadi kalau mau ngasih bantuan harus ada peraturan perundangannya. Sehingga ini yang sering menghambat program pengentasan kemiskinan. Tapi kerja pengentasan kemiskinan itu bisa dipercepat oleh lembaga filantropi.

Katanya ada 8 lapis kemiskinan. Pemateri sih bilang kalau setidaknya ada tiga kemiskinan yang sering ditemukan yaitu kemiskinan ekstrem, rentan, dan terselubung. Ada masyarakat kalau tua atau tiga hari tidak kerja dia langsung tergolong jadi miskin.  

Menariknya mereka mengatakan bahwa entrepreneur bukanlah profesi tetapi mindset. Siapapun bisa menjadi entrepreneur. Berbagi tidak harus menunggu punya atau kaya. Membantu tidak harus sudah sukses dulu. Justru kalau kita dalam kondisi kekurangan, akan lebih berarti donasi dan kontribusi yang diberikan.

Inspirasi dari Indonesia Humanitarian Summit 2025

 

 Ada rasa bangga ketika hari ini semakin banyak lembaga filantropi. Perkembangannya membanggakan. Itu berarti semakin banyak lembaga dan orang-orang yang mau berbagi dan berkontribusi memberikan solusi untuk permasalahan negara. Lembaga yang yang banyak itu bukanlah saingan tetapi saling bersinergi.

Makanya dalam Indonesia Humanitarian Summit 2025 ada spirit yang dibawa yaitu Empowerment To The Next Level. Dompet Dhuafa bersama Nusantara TV ingin mempertegas target filantropi Indonesia, bahwa tak hanya memberi bantuan, tapi hadir memberikan solusi berkelanjutan melalui program pemberdayaan, sehingga dhuafa dapat keluar dari jerat kemiskinan dan bertransformasi menuju kehidupan yang lebih bermartabat.

“Memberi adalah obat dari penyakit jiwa bernama kikir. Memberi tidak mengharuskan kita menunggu kaya terlebih dahulu untuk melakukannya. Bahkan, memberi juga adalah sarana kohesi sosial,” kata Anis Matta.

 

Empowerment to The Next Level: Dari Bantuan ke Solusi Berkelanjutan

Pemberdayaan bukan hanya level individu dan komunitas tapi hingga industri komunal. Salah satu pemberdayaannya adalah membantu petani hingga menghasilkan produksi yang bernilai jual lebih tinggi. Ada Madaya Coffe dengan produk kopi Arabika Gayo. Ada IKON (Industri Komunal Olahan Nanas) di Subang Jawa Barat yang mengolah nanas menjadi jus dan selai sehingga kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. 

Sesi Talkshow banyak menabur inspirasi. Sally Giovanny (Owner Batik Trusmi) mengawali usahanya dengan berjualan kain kafan. Setelah jeli dan teliti melihat pasar lalu usahanya berkembang ke dunia batik. Sekarang produknya diakui dunia. Salah satunya dengan kehadiran Batik Trusmi di New York Fashion Week.

Kalau biasanya orang memilih bekerja di perusahaan dengan gaji yang stabil, Andhika Mahardika (Owner Agradaya) memutuskan jadi petani pada usia 25 tahun. Agradaya mengajak petani melalui pertanian alami dan teknologi pengolahan pasca-panen (rumah surya) sehingga produk herbal ini memiliki nilai tambah. Petani pun semakin sejahtera.

“Enterpreneurship is not a profesi, Enterpreneurship is a mindset,” kata Sandiaga Uno. Dengan apapun profesi kita, sangat bisa menjadi enterpreneur. Maka, tidak menunggu jadi pengusaha atau kaya dulu untuk menjadi enterpreneur. Asal jeli melihat peluang, mengembangkannya jadi kesempatan, dan memberdayakan orang-orang di sekitarnya. Sandiaga berharap akan ada banyak pemuda menjadi entrepreneur yang sukses. Bukan hanya di level lokal tapi global bahkan internasional.

Pemberdayaan masyarakat memang berbasis ekonomi. Namun, masalah ekonomi ini sangat berkaitan erat dengan pendidikan dan sosial keluarga.  Pemberdayaan dhuafa bisa mengubahnya menjadi mandiri bahkan jadi muzakki (yang memberi zakat). Enterpreneur yang membuka lapangan keluarga menjadi semakin berkualitas dan produktif. Kalau lebih banyak pemuda yang melek masalah bangsa, tak hanya mikir beban sendiri, dampaknya akan banyak solusi lagi yang bisa diciptakan.

Luar biasa. IHS 2025 ibarat pasar ide yang sangat besar. Dari sana ada semangat entrepreneur dan filantropi mencapai Indonesia Emas 2045.